Rabu, 29 Mei, 2024
Kerusuhan di Sudan

Kerusuhan di Sudan. (Foto: Net)

Mahasiswa kedokteran asal Palestina bernama Nour Kullab mengira saat jembatan-jembatan ditutup di dekat tempat tinggalnya di ibu Kota Sudan, itu hanyalah aksi protes biasa.

Aliran listrik dan air terputus di tengah suara tembakan dan roket, kata Kullab kepada Reuters di rumah keluarganya di Khan Younis, Jalur Gaza, empat hari setelah kepulangannya.

“Saya keluar dari rumah, tak ada bajaj, tak satu pun mobil berhenti untuk membantu saya, kawasan industri terbakar, dan toko-toko tutup. Saya merasa ngeri seakan-akan hari itu adalah kiamat,” kata Kullab Kullab.

“Saat Anda melihat mayat berserakan di mana-mana, orang-orang kehilangan anggota tubuh, bank-bank dibakar, Anda merasa sangat tidak aman,” katanya seperti dikutip dari Berita Antara.

BACA JUGA:  370 Mahasiswa dari 143 Kampus di Indonesia Berkumpul di Mataram, Ada Apa?

Pertempuran memperebutkan kekuasaan antara militer Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) telah berkecamuk sejak 15 April dan menewaskan ratusan orang. Kementerian Luar Negeri Palestina pada Senin mengatakan telah mengevakuasi warga Palestina di Sudan bersama Mesir, Yordania, dan Arab Saudi.

Gaza telah menyaksikan konflik antara Israel dan Palestina. Blokade Israel telah membatasi pergerakan orang Palestina selama bertahun-tahun.

“(Konflik di Sudan) itu lebih buruk daripada perang di Gaza,” kata Kullab.

Dia mengaku menjalani hari-hari tanpa makanan atau air bersih setelah keluar dari rumahnya dan tinggal bersama seorang teman di Sudan.

Toko-toko ditutup karena penjarahan terjadi di mana-mana.

“Ada orang yang menjual air di mobil tangki, air asin, dari laut, dari sungai, yang penting itu adalah air. Kami bisa melihat alga (di air itu), kami biasa merebus dan meminumnya, tetapi menjadi lebih haus sesudahnya,” kata Kullab.

BACA JUGA:  Puluhan mahasiswa PMII Ambon Berunjuk Rasa, Minta Tindak Tegas Oknum Dosen Pelaku Dugaan Pelecehan Seksual

Dia tiba di Sudan pada 2015 untuk kuliah kedokteran, tetapi pendidikannya terganggu oleh konflik sipil dan pandemi. Ketika perang meletus baru-baru ini, kelulusannya tinggal beberapa hari saja dan dia hanya menghadapi beberapa ujian lagi.

“Masa depan saya seperti direnggut paksa, semuanya sia-sia,” katanya.

Pada Jumat, keluarganya menyambut Kullab di perbatasan dengan Mesir dengan air mata, bukan dengan perayaan seperti rencana pada Mei nanti ketika dia menyelesaikan kuliahnya. “Suasana gembira menjadi kesedihan,” kata ibunya, Ruwaida.

Sumber: Antara