Lebih Suka Makanan Tertentu? Ternyata Pengaruh Genetika Lho!

Genetika dan preferensi makanan - pexels
Genetika dan preferensi makanan - pexels

DENPASAR, MENITINI.COM – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pilihan alias preferensi rasa kita bisa terkait dengan gen bawaan dari keluarga kita lho! Contohnya pada orang-orang yang lebih menyukai makanan berkalori tinggi. Tapi tidak hanya terkait gen, otak, budaya dan kebiasaan juga memiliki pengaruh. Utamanya pengaruh pada ketertarikan akan penampilan, aroma, rasa, dan tekstur makanan yang berbeda. Nah, dari kesekian faktor tersebut, sebuah data menunjukkan bahwa pengaruh gen masih yang terbesar. Mari kita ulas satu persatu!

Genetika dan Preferensi Makanan

Dari penelitian ini, akan menjelaskan mengapa beberapa orang lebih memilih menambah saus cocolan daripada menu berdasar pedas. Para peneliti dari University of Edinburgh melihat bagaimana lebih dari 150.000 peserta di kelompok Biobank Inggris menilai preferensi mereka untuk 139 makanan dan minuman yang berbeda menggunakan skala sembilan poin.

Selanjutnya, para peneliti melihat informasi genetika peserta dan hasil dari kuesioner preferensi makanan mereka untuk melihat apakah mereka dapat menemukan hubungan. Hasilnya, terdapat 1.401 variasi genetika terkait dengan ciri-ciri preferensi makanan tertentu. Variasi ini menjelaskan tentang toleransi rasa pedas maupun jenis pilihan pada lauk pauk. Dengan menggunakan informasi ini, para peneliti memasukkan makanan ke dalam tiga kategori. Kategori ini berdasarkan kenikmatan, jumlah kalori dan kompleksitas pemrosesannya.

Apa Arti Preferensi Makanan Bagi Kesehatan

Ketika para peneliti melihat bagaimana variasi genetika dikaitkan dengan kesehatan, mereka menemukan hubungan antara kategori preferensi dan ciri-ciri kesehatan tertentu. Sebagai contoh:

BACA JUGA:  7 Faktor Penentu Keberhasilan Resolusi Diet
  • Orang yang lebih cenderung memilih makanan yang nikmat membawa varian gen terkait obesitas dan tingkat aktivitas yang lebih rendah.
  • Orang yang menikmati makanan berbumbu kuat memiliki gen terkait kolesterol lebih rendah namun cenderung memiliki asupan alkohol yang lebih tinggi.
  • Preferensi makanan rendah kalori dikaitkan dengan peningkatan aktivitas fisik

Ketika melihat makanan dan kelompok makanan tertentu, para peneliti menemukan bahwa tidak semua orang membawa gen untuk menyukai semua makanan dalam satu kategori. Misalnya, orang yang suka sayur masak belum tentu suka salad. Jadi presentasi dalam suatu sajian juga bisa membedakan kecenderungan seseorang untuk memilih makanan.

Pemrosesan Rasa di Otak

Pemindaian MRI menunjukkan bahwa preferensi untuk makanan berkalori tinggi terkait dengan bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan kesenangan. Hal ini berarti kesukaan terhadap makanan lebih dipengaruhi oleh faktor biologis daripada perilaku. Menurut Nicola Pirastu, PhD, reseptor rasa memainkan peran penting dalam makanan yang Anda sukai. Menurut beliau, pembagian preferensi utama bukanlah antara makanan gurih dan manis. Preferensi makanan manis dan gurih yang selama ini beredar tidak dapat dibuktikan. Pembagian makanan lebih kepada kecenderungan memandan makanan sebagai yang memberi perasaan menyenangkan dan berkalori tinggi.

Pemilihan makanan tidak hanya terkait pemrosesan rasa dan genetika pada otak. Bagi banyak orang, preferensi makanan kembali ke masa kecil mereka. Pada masa emas tumbuh kembang anak, saat inilah proses pembentukan preferensi terhadap makanan juga terjadi. Saat ini adalah momen ideal yang dapat mendorong anak untuk mencoba makanan yang berbeda. Misalnya, anak-anak lebih cenderung menerima makanan tertentu semakin sering mereka terpapar walau dari segi visual kurang menarik.

BACA JUGA:  Benarkah Protein Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Begini Penjelasan Pakar Gizi

Jadikan Preferensi Genetika sebagai Keuntungan

Melissa Mitri, seorang dietisien mengatakan bahwa temuan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa kita tertarik pada cara makan tertentu. Sekarang tinggal bagaimana caranya kita mengelolanya dan mengambil keuntungan dari pilihan makanan ini. Bagi Melissa, adalah suatu kesalahan jika kita berusaha keras melawan kecenderungan gen. Pada titik inilah banyak program diet yang gagal dan tidak membuahkan kesehatan.

Menurutnya, bersandar pada preferensi alias selera Anda bisa menjadi cara yang lebih realistis untuk menavigasi pilihan diet sehat yang cocok untuk Anda. Misalnya, jika Anda menyukai permen, pilihlah buah-buahan yang lebih manis seperti beri sebagai cara yang lebih menyehatkan untuk memuaskan hasrat alami Anda. Jika Anda lebih suka makanan berkalori lebih, masukkan lebih banyak makanan padat nutrisi bersama dengan pilihan padat kalori pilihan Anda. Misalnya, junkfood dalam porsi yang lebih kecil dan tambahkan lebih banyak sayuran ke dalam makanan agar lebih bergizi.

Genetika mungkin memainkan peran lebih besar dalam preferensi makanan Anda daripada yang Anda pikirkan. Meskipun Anda tidak dapat mengubah gen atau selera Anda, menerima makanan yang disukai dan tidak disukai dan mengelolanya dengan baik malah menguntungkan. Anda dapat membantu tubuh Anda mendapat asupan optimal dengan membuat rencana makan bergizi tanpa harus tersiksa.(M-010)