DENPASAR,MENITINI.COM – Indonesia menghadapi tantangan serius di bidang kesehatan seiring meningkatnya prevalensi kanker dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit ini terjadi akibat perubahan genetik pada sel tubuh yang menyebabkan pertumbuhan tidak terkendali dan kemampuan menyerang jaringan di sekitarnya.
Dalam perkembangan terbaru, kanker tidak lagi identik dengan usia lanjut atau faktor keturunan semata. Tren epidemiologi menunjukkan adanya pergeseran pola, di mana gaya hidup modern dan faktor lingkungan berperan besar dalam meningkatnya kasus kanker, baik di Indonesia maupun secara global.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (IARC), jutaan kasus kanker baru tercatat setiap tahun di seluruh dunia. Bahkan, proyeksi jangka panjang menunjukkan angka tersebut berpotensi meningkat signifikan hingga tahun 2050 jika tidak dilakukan intervensi pencegahan yang efektif.
Fenomena lain yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya kasus kanker pada kelompok usia yang lebih muda. Beberapa jenis kanker yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada lansia, kini mulai muncul pada dewasa muda hingga usia paruh baya. Kondisi ini dikaitkan dengan perubahan gaya hidup, seperti pola makan tidak sehat, minimnya aktivitas fisik, serta paparan zat berbahaya sejak dini.
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga menjadi faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kanker, termasuk kanker paru-paru dan kanker usus. Selain itu, gaya hidup sedentari akibat kesibukan kerja tanpa diimbangi olahraga turut memperbesar risiko.
Faktor lingkungan, seperti kualitas udara yang buruk akibat polusi kendaraan dan industri, juga disebut berperan dalam peningkatan kasus kanker. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan kenaikan signifikan pada kasus kanker usia muda, termasuk kanker kolorektal.
Menurut dr. Surya Wibawa Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RSU Bhakti Rahayu Denpasar, peningkatan kasus kanker dipicu oleh kombinasi faktor penuaan, gaya hidup, dan lingkungan.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar kanker sebenarnya dapat dicegah melalui strategi yang komprehensif. “Pendekatan terbaik adalah kombinasi pencegahan primer dan deteksi dini. Edukasi pasien menjadi kunci, termasuk mendorong skrining berbasis risiko dan modifikasi gaya hidup,” ujarnya.
Pendekatan berbasis populasi juga dinilai penting agar masyarakat dapat terdeteksi lebih awal, sehingga upaya pencegahan maupun pengobatan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (M-004)









