Kaki Baru untuk Pak Made Maruta: Harapan untuk Kembali Berdiri Setelah Enam Tahun

Antusiasme I Made Maruta (84), penyandang disabilitas asal Gianyar saat menerima donasi kaki palsu dari CSR Mitra Prodin (Foto : M-012)

GIANYAR, MENITINI.COM- Senyum terlihat di wajah I Made Maruta, Rabu pagi (16/9/2026). Di usianya yang telah menginjak 84 tahun, ada semangat yang kembali terlihat ketika sebuah kaki palsu mulai dipasangkan pada tubuhnya.

Sejak pukul tujuh pagi, Pak Made sudah menunggu di depan kamar. Ia tidak ingin melewatkan momen ketika dirinya mendapatkan kaki palsu yang selama ini diharapkan dapat membantunya kembali berdiri dan beraktivitas.

“Karena sangat antusias, bapak sudah menunggu di depan kamar sejak pukul tujuh pagi tadi,” ujar Yudha Maruta, putra Pak Made, yang mendampingi proses pemasangan.

Hari itu, kediaman Pak Made di Gianyar menjadi tempat dimulainya sebuah langkah baru. Setelah bertahun-tahun lebih banyak menjalani aktivitas dengan bantuan kursi roda, Pak Made mendapatkan kaki palsu melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Mitra Prodin.

Enam Tahun Beraktivitas dengan Kursi Roda

Penerima Donasi Kaki Palsu CSR Mitra Prodin, I Made Maruta (84) (Foto : M-012)

Kehidupan Pak Made berubah pada 2020. Diabetes yang dideritanya menyebabkan salah satu kakinya harus diamputasi.

Sejak saat itu, berbagai aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah menjadi lebih terbatas. Mobilitas sehari-hari lebih banyak dilakukan dengan bantuan kursi roda, termasuk aktivitas sederhana di rumah.

Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk hidup dengan keterbatasan mobilitas. Karena itu, ketika kesempatan untuk mendapatkan kaki palsu datang, keluarga menyambutnya dengan penuh antusias. Bagi Pak Made, kaki palsu tersebut bukan sekadar alat bantu untuk berjalan. Ada harapan agar dirinya kembali memiliki ruang untuk bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Harapan tersebut mulai diwujudkan ketika tim membantu memasangkan kaki palsu dan memberikan latihan awal. Perlahan, Pak Made mencoba berdiri dan belajar menyesuaikan tubuhnya dengan kaki palsu yang baru dikenakan.

Senyum hangat terlihat selama proses tersebut. Bagi keluarga, momen itu menjadi sesuatu yang sangat berarti.

“Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada bapak kami. Bantuan kaki palsu ini tentu sangat berguna untuk keseharian bapak kami di rumah. Harapan ke depannya, agar kegiatan semacam ini bisa menyentuh lebih banyak penerima di luar sana,” ungkap Yudha.

Bukan Sekadar Kaki Palsu

Bantuan tersebut diberikan oleh Mitra Prodin melalui program CSR perusahaan. Bagi Mitra Prodin, program ini merupakan bagian dari perjalanan perusahaan yang telah memasuki usia 25 tahun.

Chief Operating Officer (COO) Mitra Prodin, Erwin Johan, mengatakan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bisnis, tetapi juga bagaimana perusahaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Ia menceritakan, sejak awal kehadirannya di Bali, Mitra Prodin memiliki perhatian terhadap pemberdayaan perempuan, khususnya perempuan yang membutuhkan kesempatan untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga.

“Misi awal kami di Bali adalah memberdayakan perempuan, terutama perempuan yang bisa bekerja dan menafkahi keluarga. Pendiri perusahaan melihat bahwa di Bali peran wanita selama ini sangat penting secara finansial. Sayangnya, berbekal pendidikan SMP/SMA mungkin cukup sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal inilah yang melandasi kami untuk mempekerjakan mereka,” ujar Erwin.

BACA JUGA:  Kebakaran Landa 4 Hektare Hutan Lindung Bukit Mendaa

Pemberdayaan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Mitra Prodin dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Seiring waktu, kontribusi sosial perusahaan tidak hanya diarahkan pada pemberdayaan perempuan, tetapi juga berbagai kegiatan yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan lingkungan.

Dalam kasus Pak Made, Erwin berharap bantuan tersebut dapat memberikan kesempatan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih aktif.

“Pak Made Maruta kan tidak bisa berjalan sudah cukup lama karena diabetes. Harapannya ini membuka kebahagiaannya sendiri. Bagaimanapun manusia adalah makhluk aktif, jadi kalau dipaksa diam pasti ada yang hilang. Jadi ini bukan hanya memberi kaki palsu, tapi juga kami harap dapat memberi hidup baru,” ungkapnya.

Pak Made dipilih sebagai penerima bantuan berdasarkan pertimbangan internal Mitra Prodin. Dalam program tersebut, ia dinilai memenuhi kriteria sebagai penerima manfaat yang membutuhkan dukungan kaki palsu.

Dari Sampah Plastik Menjadi Harapan

Kaki palsu berbahan dasar sampah plastik karya Yayasan Kaki Kita Senusantara.(Foto : M-012)

Ada hal lain yang membuat bantuan untuk Pak Made menjadi berbeda. Kaki palsu yang diterimanya tidak hanya menjadi alat bantu mobilitas, tetapi juga membawa cerita tentang pemanfaatan sampah plastik.

Kaki palsu yang diterimanya tidak hanya menjadi alat bantu mobilitas, tetapi juga membawa cerita tentang pemanfaatan sampah plastik.

Dalam pelaksanaannya, Mitra Prodin sebagai pemilik dan pemberi dukungan CSR menggandeng Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS), dengan dukungan ekosistem Bhakti Rahayu Group. YKKS berperan dalam membuat dan menyalurkan kaki palsu sekaligus memberikan pendampingan kepada penerima manfaat.

Pendiri YKKS, Made Aditiasthana, menjelaskan bahwa kaki palsu yang diproduksi YKKS memanfaatkan material plastik daur ulang.

Dalam satu kaki palsu, dibutuhkan sekitar lima kilogram plastik. Setelah melalui proses pengolahan dan pembentukan, material tersebut mengalami penyusutan hingga menjadi sekitar dua sampai tiga kilogram untuk menghasilkan produk kaki palsu.

“Dalam proses pembuatannya, satu kaki palsu membutuhkan sekitar 5 kilogram plastik. Setelah melalui proses pengolahan dan pembentukan, material tersebut mengalami penyusutan hingga menjadi sekitar 2–3 kilogram untuk produk kaki palsu,” terang Adit.

Menariknya, sampah plastik yang digunakan tidak selalu berakhir menjadi produk dengan tampilan yang seragam. Warna dan pola pada kaki palsu justru berasal dari warna asli material plastik yang digunakan.

“Pattern kreativitasnya dari pekerja. Pattern terbentuk dari warna asli sampah. Misalnya putih dengan bercak hitam, menggunakan sampah putih dan hitam,” jelas Adit.

Dengan demikian, setiap kaki palsu dapat memiliki pola dan tampilan yang berbeda. Material yang sebelumnya merupakan sampah plastik diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi bagi penerimanya sekaligus memiliki nilai estetika.

BACA JUGA:  Pemkab Badung Gandeng ITS Luncurkan AMDK Botol Kaca Baliss

Ketika Banyak Pihak Bertemu dalam Satu Langkah

Penyerahan kaki palsu karya Yayasan Kaki Kita Senusantara, Rabu (16/9) (Foto : M-012)

Bantuan yang diterima Pak Made menjadi bagian dari kolaborasi beberapa pihak dengan peran yang berbeda.

Mitra Prodin menjadi pihak yang memberikan dukungan CSR. Bhakti Rahayu Group berperan melalui ekosistem dan jejaring yang dimilikinya, membantu mempertemukan kebutuhan sosial dengan pihak yang dapat memberikan dukungan. Sementara YKKS hadir dengan kompetensi dalam pembuatan kaki palsu serta pendampingan bagi penerima manfaat.

Direktur Utama PT Bhakti Rahayu Group, Putu Ivan Yunatana, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan ekosistem Bhakti Rahayu Group terhadap program Mitra Prodin dalam rangka ulang tahun perusahaan ke-25.

“Ini adalah bentuk dukungan ekosistem Bhakti Rahayu Group kepada Mitra Prodin, dimana dalam ulang tahun Mitra Prodin ke-25 ini, salah satu giatnya telah dilangsungkan donasi kaki palsu berbahan dasar sampah plastik,” ujar Ivan.

Menurutnya, program tersebut mempertemukan dua aspek sekaligus yakni kemanusiaan dan lingkungan.

“YKKS memproduksi kaki palsu yang terbuat dari sampah plastik dan telah menyalurkan ke banyak penerima yang membutuhkan. Dengan memanfaatkan sampah plastik tersebut, maka aspek kelola lingkungan dapat terwujud begitu juga dengan aspek sosialnya atau kemanusiaan dapat membantu mereka yang butuh kaki palsu,” ujar Ivan, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina YKKS.

Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana dukungan dari dunia usaha, yayasan, dan jejaring sosial dapat dipertemukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih tepat sasaran.

Langkah Pertama Pak Made

I Made Maruta saat mencoba berjalan setelah dipasangkan kaki palsu karya Yayasan Kaki Kita Senusantara.(Foto : M-012)

Bagi YKKS, pemasangan kaki palsu bukanlah akhir dari proses.

Penerima manfaat tetap membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting agar kaki palsu dapat digunakan secara optimal sesuai kondisi masing-masing penerima.

Adit mengatakan YKKS masih memiliki banyak data calon penerima yang menunggu mendapatkan bantuan kaki palsu.

“Harapan kami semoga program ini terus berlanjut. Kami di YKKS banyak data calon penerima yang menunggu untuk mendapat bantuan kaki palsu,” kata Adit.

Harapan serupa juga datang dari keluarga Pak Made. Bantuan yang diterima ayahnya diharapkan tidak berhenti menjadi sebuah pemberian, tetapi menjadi awal dari lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas lainnya untuk mendapatkan dukungan serupa.

Sementara bagi Pak Made, hari itu mungkin menjadi sebuah permulaan sederhana. Belajar berdiri kembali, mencoba melangkah, dan perlahan beradaptasi dengan kaki barunya. Setelah enam tahun lebih banyak bergantung pada kursi roda, sebuah kaki palsu memberinya kesempatan untuk kembali mencoba.

Bukan tentang seberapa jauh langkah yang dapat dibuat hari itu, tapi makna dibaliknya dan bagaimana langkah itu akhirnya tercipta.(*)

Scroll to Top