Senin, 24 Juni, 2024

Pameran UMKM di Pantai Kuta saat WWF ke-10.

BADUNG, MENIITINI.COM – Suksesnya penyelenggaraan World Water Forum (WWF) ke-10, menjadi hal yang sangat disyukuri Desa Adat Kuta. Pasalnya, baru kali ini Kuta dilibatkan langsung menjadi salah satu venue acara, khususnya gelaran exhibition fair (pameran UMKM).

Momen tersebut diharapkan memantik geliat kunjungan wisatawan asing ke Kuta pasca pandemi Covid-19 dan menjadikan Kuta kembali sebagai tujuan wisata terfavorit pasca penataan pantai Samigita (Seminyak, Legian, Kuta).

Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana menyampaikan pihaknya berterimasih kepada panitia WWF yang sudah melibatkan Desa Adat Kuta menjadi salah satu tuan rumah perhelatan acara.

“Selama pelaksanaan exibition di Pantai Kuta, masyarakat maupun pengunjung begitu tertib dan antusias. Aparat keamanan yang berjaga sigap dan panitia sama-sama bersinergi,” kata Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana, Rabu (29/05/2024).

Juara Grup, Jerman Bersiap ke ‘Neraka’ di Babak 16 Besar Euro 2024

Mesum Bareng Seorang Kakek hingga Videonya Viral, Ini Yang Dikatakan Korban

Komunitas Club Motor YNCI Diingatkan Edukasi Safety Reading

Ratusan Gelar Latihan Akbar Menuju “Pagelaran Sabang Merauke” 

Menurutnya, even ini menjadi momen yang sangat baik untuk kembali membangkitkan pariwisata Kuta dan Bali. Masyarakat kami sangat merasakan dampaknya. “Saya harap event-event besar lainnya juga dapat melibatkan desa adat, karena ini juga menjadi suatu kebanggaan bagi kami," ujarnya.

Banyak manfaat yang dirasakan langsung dari perhelatan acara tersebut yaitu terkait pementasan seni di Pantai Kuta. Hal itu menjadi media menegaskan eksistensi seni di Kuta sekaligus memperkenalkan program yang nantinya akan digarap secara rutin di Kuta.

Program dimaksud adalah menampilkan event seni secara berkesinambungan di kawasan depan Pura Segara Desa Adat Kuta. Nantinya sanggar seni yang ada di Kuta dirangkul dan diwadahi untuk bisa tampil minimal seminggu sekali.

Dampak tersebut bukan hanya dirasakan dari kesenian di Kuta, UMKM lokal yang ikut terlibat menjadi peserta dalam acara juga merasakan dampak ekonomis dan marketing.

Mereka memperoleh kesempatan dan peluang untuk mengais rejeki maupun memperkenalkan produk mereka di mata delegasi dunia. Mereka berharap agar event semacam itu kedepannya dapat terus melibatkan UMKM lokal.

"Ada 16 stand UMKM lokal Kuta yang ikut dilibatkan menjadi peserta dalam exhibition. Masing-masing banjar (ada 13 banjar) kita berikan 1 slot stand, untuk WHDI kita berikan 2 slot dan PKK kita berikan 1 slot. Ini gratis diberikan panitia. Setahu saya harga per stand itu Rp50 juta untuk yang kecil dan Rp100 juta untuk yang besar," ungkapnya.

Sementara bagi Pasar Seni Kuta, keberadaan event tersebut menjadi wahana promosi gratis untuk memperkenalkan kembali pasar seni Kuta pasca direvitalisasi oleh Pemkab Badung.

"Karena lokasi stand berdekatan, jadi delegasi secara tidak langsung melihat pasar seni. Kalau dulu dikira hotel atau rumah sakit, sekarang mereka lebih tahu bahwa itu bangunan Pasar Seni Kuta. Menurut mereka sekarang kebersihan dan ketertiban pasar seni sudah lebih baik dibandingkan dulu," bebernya. (M-003)

  • Editor: Daton
BACA JUGA:  Jelang Gelaran WWF, Menparekraf Undang Stakeholder Pariwisata Bali Bahas Isu Pariwisata Terkini