JAKARTA,MENITINI.COM – Peringatan Hari Parkinson Sedunia setiap 11 April menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit Parkinson, yang kini menjadi salah satu tantangan kesehatan global. Dengan tema United for Progress, Hope for All, Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya solidaritas internasional, pemerataan akses layanan kesehatan, serta penguatan riset inovatif.
Dilansir dari Kantor Berita Antara, Senin (13/4), Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 10 juta orang di dunia hidup dengan Parkinson. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita diperkirakan telah melampaui 1,1 juta orang pada 2026, dengan sekitar 80 ribu kasus baru setiap tahunnya.
Penyakit Parkinson sendiri pertama kali dijelaskan oleh James Parkinson pada tahun 1817 melalui karyanya An Essay on the Shaking Palsy. Hingga kini, penyakit ini masih menjadi perhatian serius karena sifatnya yang progresif dan dampaknya yang luas terhadap kualitas hidup penderitanya.
Parkinson erat kaitannya dengan proses penuaan dan meningkatnya penyakit degeneratif di masyarakat. Sejumlah tokoh dunia seperti Muhammad Ali, Michael J. Fox, dan Neil Diamond menjadi bukti bahwa penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
Gejala Parkinson umumnya berkembang secara perlahan, dimulai dari tremor, gerakan melambat, kekakuan otot, hingga gangguan keseimbangan. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada gangguan motorik. Banyak penderita juga mengalami depresi, gangguan tidur, penurunan fungsi kognitif, hingga komplikasi serius seperti pneumonia.
Meski penyebab pasti Parkinson belum sepenuhnya diketahui, sejumlah faktor risiko telah diidentifikasi, seperti faktor genetik, paparan racun lingkungan, serta riwayat trauma kepala. Upaya pencegahan masih bersifat umum, termasuk menjaga pola hidup sehat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, tidur cukup, serta mengelola stres.
Dalam hal pengobatan, terapi Parkinson saat ini berfokus pada pengendalian gejala. Obat seperti levodopa digunakan untuk meningkatkan kadar dopamin di otak, sementara terapi fisik dan wicara membantu mempertahankan fungsi tubuh dan komunikasi pasien. Selain itu, metode seperti stimulasi otak dalam juga menjadi alternatif untuk mengurangi gejala motorik.
Pendekatan komplementer seperti yoga, meditasi, hingga terapi musik juga mulai banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, meski tetap memerlukan pengawasan medis.
Di luar aspek medis, peran keluarga menjadi kunci dalam mendukung penderita Parkinson. Dukungan emosional dan pendampingan dalam menjalani terapi sangat membantu pasien menghadapi tantangan fisik maupun psikologis.
Pemerintah Indonesia bersama organisasi profesi dan komunitas seperti Parkinson Indonesia terus berupaya meningkatkan layanan dan edukasi kepada masyarakat. Namun, peningkatan kesadaran publik, dukungan pembiayaan, serta investasi penelitian masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat.
Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan akibat penyakit, terdapat semangat untuk terus bertahan dan menginspirasi, sebagaimana disampaikan oleh Michael J. Fox bahwa Parkinson bukanlah batas, melainkan peluang untuk membantu sesama. *
- Editor: Daton









