Mengusung konsep edukatif dan interaktif, kegiatan ini mengajak pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat lokal hingga wisatawan domestik dan mancanegara, untuk mengenal lebih dekat pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
Perwakilan Bali Waste Cycle, Sofie Choirun Nisa, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih jauh inisiatif Bali Waste Cycle dan KARFA sebagai bagian dari ekosistem Bhakti Rahayu Group, sekaligus mendorong kesadaran bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya.
“Di Waste Management Booth, kami ingin menunjukkan bahwa belajar soal sampah nggak harus selalu serius dan membosankan. Lewat games, workshop, sampai pengalaman langsung melakukan press botol plastik, kami ingin mengajak pengunjung untuk lebih dekat dengan isu sampah dan melihat apa yang bisa dilakukan dari hal-hal sederhana,” ujarnya.
Melalui berbagai aktivitas yang dihadirkan, pengunjung diajak mengenal jenis-jenis sampah, memahami pentingnya pemilahan dari sumber, sekaligus melihat perjalanan material setelah dikumpulkan mulai dari proses pemilahan dan pengolahan hingga dapat dimanfaatkan kembali.

Pengunjung juga dapat melihat sekaligus membeli berbagai produk KARFA yang dibuat dari material plastik daur ulang. Kehadiran produk-produk tersebut menunjukkan secara langsung bagaimana plastik yang telah dipilah dan dikumpulkan dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Salah satu aktivitas yang mendapat perhatian pengunjung adalah Beads Workshop. Dalam kegiatan ini, peserta dapat membuat gelang secara langsung menggunakan manik-manik yang berasal dari plastik HDPE hasil olahan, seperti tutup botol dan jerigen warna-warni. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman kreatif sekaligus memperlihatkan secara nyata bagaimana material plastik dapat diolah dan digunakan kembali menjadi produk baru yang menarik dan bernilai.

Pengunjung juga diajak berpartisipasi dalam PET Bottle & MLP Collection, yaitu kegiatan pengumpulan botol PET dan Multi-Layer Packaging (MLP) untuk dikelola lebih lanjut. Di area booth, pengunjung turut mendapatkan pengalaman langsung melakukan proses press botol plastik dan kaleng sebagai bagian dari penanganan material setelah dikumpulkan.
“Yang paling penting, kami ingin mengingatkan bahwa pengelolaan sampah sebenarnya dimulai dari kita sendiri, dari sumbernya. Ketika sampah sudah dipilah dengan benar sejak awal, material tersebut akan jauh lebih mudah untuk dikelola dan dimanfaatkan kembali,” tambah Sofie.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, booth BWC x KARFA juga menjadi ruang untuk melihat kembali kondisi pengelolaan sampah dari sisi masyarakat. Salah satu pengunjung, Michele, menyoroti bahwa kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memilah sampah masih menjadi tantangan.
“Harus diakui, awareness masyarakat kita terhadap pengelolaan sampah itu masih kurang. Bahkan untuk memilah sampah saja, belum semuanya,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran booth seperti ini dapat menjadi sarana edukasi yang menunjukkan secara langsung bahwa plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat.
“Lewat booth ini sekaligus mengedukasi bahwa ternyata sampah plastik bisa diolah secantik ini. Harapannya, ini bisa membuat masyarakat kita lebih aware untuk melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah, minimal dimulai dari diri sendiri,” lanjutnya.
Michele juga berharap edukasi mengenai pemilahan dapat semakin diperluas, sehingga masyarakat mampu membedakan sampah berdasarkan jenisnya, termasuk sampah organik dan anorganik, serta semakin memahami bahwa pemilahan dari sumber merupakan bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

