Budaya Tionghoa dan Bali Berpadu di Perayaan Imlek 2575 di Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada

DENPASAR, MENITINI.COM- Ritual perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili digelar semarak di kawasan Heritage Jalan Gajah Mada Denpasar pada Sabtu (24/2/2024). Pada sore itu hadir langsung Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, yang turut menyaksikan rangkaian acara yang merupakan perpaduan akulturasi budaya Tionghoa dan Bali tersebut.

Selain Wali Kota Denpasar, pada kesempatan itu tampak hadir pula Anggota DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya; Anggota DPRD Kota Denpasar, I Ketut Suteja Kumara; Ketua TP PKK Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara; serta Penglingsir Puri Jro Kuta, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya atau Turah Joko.

Di sela-sela kegiatan berlangsung, Wali Kota Denpasar Jaya Negara menyampaikan bahwa akulturasi budaya Tionghoa dan Bali merupakan implementasi spirit kolaborasi dan toleransi dalam menjaga keberagaman di Kota Denpasar.

BACA JUGA:  Sambut Raya Nyepi Caka 1946, Pemkab Badung Cairkan Dana Kreativitas Ogoh-Ogoh

“Akulturasi budaya adalah sprit dan kekuatan kita untuk dapat mendukung pembangunan Kota Denpasar. Dengan keragaman kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di Kota Denpasar tentu akan juga semakin meningkatkan daya tarik wisata di kota ini,” ungkapnya.

Jaya Negara menambahkan, Pemerintah Kota Denpasar sangat fokus dalam merangkul keberagaman yang dapat memperkaya Kota Denpasar sebagai kota berbudaya, yang seiring dengan spirit Vasudhaiva Kutumbakam atau menyama braya (persaudaraan) dan meneguhkan Denpasar sebagai kota toleransi.

Pemrakarsa kegiatan, I Ketut Siandana, dari Komunitas Bali Harmoni Nusantara (Bahana), menjelaskan, rangkaian ritual Imlek Tahun 2575 pada tahun ini difokuskan pada prosesi ritual dan doa bersama guna memohon keselamatan pada tahun berlambang Naga Kayu ini.

BACA JUGA:  Bupati Tamba Apresiasi Krama Desa Adat Yeh Buah Gelar Karya Ngenteg Linggih 

“Hari ini kita fokuskan untuk doa-doa, prosesi, sujud syukur sebagai makna utama perayaan Imlek, yang tentunya bermuara pada kemakmuran bersama,” ujarnya.

Selain ditujukan untuk memohon kemakmuran masyarakat, Siandana menambahkan kegiatan Ritual Imlek ini adalah wujud akulturasi budaya Tionghoa dan Bali yang terus ingin dilestarikan. Dan juga merupakan bentuk toleransi dan integrasi dalam kebudayaan.

Pihaknya sengaja menggelar rangkaian acara ini di kawasan heritage Jalan Gajah Mada Denpasar, di mana kawasan ini sejak dulu terkenal sebagai kawasan sentra perdagangan yang banyak dihuni keluarga Tionghoa.

“Karena seperti diketahui, di Bali sejak dulu telah banyak bentuk toleransi dan integrasi budaya. Seperti kehidupan warga Tionghoa di Jalan Gajah Mada, kehidupan saudara kaum Muslim di Karangasem yang masih menyatu dengan desa dan puri, dan lainnya,” katanya.

BACA JUGA:  Festival Barong Bangkung Mapetuk Agung Banjar Sila Dharma Mengwitani, Dibuka Sekda Badung

Rangkaian acara perayaan Imlek tersebut diawali dengan ritual di Puri Agung Jro Kuta. Kemudian dilanjutkan dengan ritual di Konco Sing Bie Bio, Jalan Kartini.

Setelahnya, diadakan iring-iringan parade yang diawali dengan ritual menyalakan petasan, dilanjutkan dengan memohon restu di Pura Desa Denpasar.

Rangkaian acara berlanjut dengan pergerakan parade ke kawasan Patung Catur Muka untuk selanjutnya kembali ke Ratu Mas Melanting, pelataran Pasar Badung Denpasar.

Selanjutnya di pelataran Pasar Badung juga dipentaskan beragam garapan budaya. Seperti Angklung Dewata, Tari Pasepan, Tari Munggah Ayu, Tari Jenar ing Bhuana, dan juga atraksi Wushu serta Barongsai. (M-003)

  • Editor: Daton