BMKG: Peringatan Tsunami Flores Aktif 2 Menit 16 Detik Setelah Gempa

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan bencana gempa bumi di Posko Penanganan Gempa Bumi di Bataliyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan bencana gempa bumi di Posko Penanganan Gempa Bumi di Bataliyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

JAKARTA,MENITINI.COM – Pemerintah memperkuat penanganan dan mitigasi bencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk memastikan sistem peringatan dini tsunami berfungsi cepat dan efektif.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan sistem peringatan dini tsunami langsung diaktifkan setelah gempa terjadi. Informasi potensi tsunami disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai kanal dalam waktu 2 menit 16 detik.

Hal itu disampaikan Teuku Faisal saat melaporkan perkembangan penanganan bencana kepada Presiden Prabowo Subianto, Rabu (26/8/2026).

“Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita harus menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami akan terjadi di mana. Jadi tepat 2 menit 16 detik, BMKG mengumumkan ke semua kanal, semua media, sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan penyelamatan sebelum tsunami terjadi,” ujar Teuku Faisal.

Menurutnya, kecepatan penyampaian peringatan tersebut turut membantu mengurangi dampak tsunami yang terjadi di sejumlah wilayah di bagian utara Pulau Flores.

BACA JUGA:  Ruang Fiskal Menyempit, Reformasi Subsidi Energi Dinilai Mendesak

BMKG mencatat tsunami di wilayah tersebut mencapai ketinggian hingga 2,5 meter.

Teuku Faisal membandingkan kondisi tersebut dengan gempa besar yang terjadi pada 1992. Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 32 kilometer memicu tsunami yang menyebabkan sekitar 2.000 orang meninggal dunia.

“Nah jadi karena kita sekarang memiliki 2.000 aloptama (alat operasional utama) sensor terkait kegempaan, di mana 175 ada di provinsi ini, itu membuat kita dapat memberikan warning yang baik pada masyarakat,” katanya.

Selain memperkuat sistem peringatan dini, pemerintah bersama pemerintah daerah dan BMKG juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menghadapi potensi gempa susulan maupun tsunami.

Edukasi tersebut dinilai penting karena sebagian warga masih diliputi kekhawatiran dan memilih bertahan di lokasi pengungsian meski kondisi rumah mereka relatif aman.

Teuku Faisal mengatakan sejumlah warga bahkan meminta petugas BMKG tetap berada di posko pengungsian untuk memberikan rasa aman.

BACA JUGA:  Warga Jembrana Antusias Sambut Kedatangan Presiden Prabowo, Pesan Energi Bersih Membentang di Jalan

“Masyarakat khawatir sekali sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya,” ujarnya.

Namun, seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai kondisi kegempaan dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap bangunan, sebagian warga mulai kembali ke rumah.

BMKG mengimbau warga yang rumahnya hanya mengalami kerusakan ringan dan masih dinyatakan aman untuk kembali, sementara bangunan yang mengalami kerusakan berat dan berpotensi membahayakan tetap harus dihindari.

“Ini kami memberikan pemahaman seperti itu,” kata Teuku Faisal. (M-011)

  • Editor: Daton
Iklan
Scroll to Top