Stres Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung Koroner

Ilustrasi stres
Ilustrasi stres. (Foto: istimewa)

JAKARTA,MENITINI.COM-Dokter jantung dr. Azlan Sain, Sp.JP, Selasa (11/10/2022), menjelaskan stres yang berlebih dapat menstimulasi saraf simpatis, suatu persarafan pada tubuh yang meningkatkan denyut dan kerja jantung.

Dilansir ANTARA, ia menjelaskan ketika saraf ini terstimulasi terus menerus akibat stres yang berkepanjangan, maka beban kerja jantung menjadi lebih berat.

“Anda harus bisa mengatur waktu istirahat, waktu di rumah, waktu dengan keluarga , atau waktu dengan teman-teman Anda dengan proporsi yang seimbang agar tidak menjadi stres,” katanya.

Selain mengelola stres, dia menyampaikan pola hidup sehat juga harus diterapkan untuk mencegah kejadian penyakit jantung koroner. Cek kesehatan secara rutin dianjurkan, terutama untuk orang-orang yang punya salah satu dari faktor risiko penyakit jantung koroner, khususnya faktor risiko yang bisa dimodifikasi.

BACA JUGA:  Menkes: Prioritas Bergeser dari Penanganan Pandemi ke Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan

Faktor risiko penyakit jantung koroner dapat berupa faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi.

Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi berupa usia dan jenis kelamin.

Azlan menyebutkan laki-laki lebih berisiko dibandingkan wanita dengan usia yang sama sebelum menopause, dan menjadi sama atau bahkan lebih tinggi risikonya pada perempuan setelah menopause.

Tak hanya itu, faktor lainnya meliputi riwayat keluarga dengan serangan jantung yang meninggal pada usia yang lebih muda (laki-laki di bawah 55 tahun, wanita di bawah 65 tahun).

Sementara itu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi meliputi obesitas, merokok, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alcohol berlebih, kadar lemak berlebih (dislipidemia), serta stres yang berlebihan.

BACA JUGA:  Panaskan Ranjang Anda! Coba 5 Posisi Seks Terinspirasi Posisi Yoga

“Pada mereka yang hipertensi, misalnya, maka pengecekan tekanan darah harus dilakukan secara rutin per tiga bulan,” jelas Azlan yang praktik di Rumah Sakit Mitra Plumbon Indramayu.

Langkah berikutnya adalah menjauhi rokok. Para perokok yang tidak ingin terkena penyakit jantung koroner diminta untuk mencari kebiasaan lain pada waktu senggang, menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat, serta berusaha menjauh dari lingkungan perokok.

Rajin melakukan aktivitas fisik juga salah satu upaya melindungi diri dari penyakit jantung koroner. Azlan menganjurkan untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang dan bersifat aerobik seperti jogging, berenang atau bersepeda, dengan minimal 30 menit per sesi Latihan selama minimal lima hari dalam seminggu untuk mendapatkan Kesehatan jantung yang adekuat. Kemudian, diet dengan makanan seimbang.

BACA JUGA:  Rekam Medis Elektronik Wajib Diterapkan Maksimal Tahun 2023

“Pola makan yang dianjurkan berupa Diet Mediterania,” katanya.

Dia menjelaskan Diet Mediterania adalah diet yang diadaptasi dari pola makan penduduk kawasan Mediterania.

Sebagian besar menunya berfokus pada konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan lemak sehat. Kurangi asupan garam dengan batas maksimal satu sendok teh garam untuk 24 jam porsi makan.

Hindari makanan dengan lemak jenuh, jenis lemak yang umumnya berasal dari hewan. Beberapa jenis makanan yang mengandung lemak jenuh diantaranya daging merah, daging unggas, dan produk olahan susu, seperti mentega, keju, dan es krim.

Jangan lupa untuk istirahat dengan durasi tujuh hingga sembilan jam per hari untuk mencegah kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah.

Sumber: ANTARA