Sebanyak 14 Orang Telah Menjadi Tersangka/ Terdakwa dalam Perkara Bakti Kominfo

JAKARTA,MENITINI.COM-Tim Penyidik pada JAMPIDSUS Kejaksaan Agung RI telah menetapkan sebanyak 14 Orang tersangka/terdakwa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2020 s/d 2022.

Jumlah tersangka/Terdakdwa tersebut terungkap saat Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Ketut Sumedana dan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) Kuntadi menggelar konferensi pers, Senin (16/10/2023).

Adapun 14 tersangka/terdakwa tersebut adalah:

  • Terdakwa (sedang menjalani persidangan):
  • Terdakwa Anang Achmad Latif.
  • Terdakwa Yohan Suryanto.
  • Terdakwa Galumbang Menak Simanjuntak.
  • Terdakwa Mukti Ali.
  • Terdakwa Irwan Hermawan.
  • Terdakwa Johnny G Plate.
  • Tahap II (belum dilimpahkan ke Pengadilan Negeri):
  • Tersangka WP.
  • Tersangka YUS.
  • Masih dalam tahap Penyelidikan Khusus:
  • Tersangka JS.
  • Tersangka EH.
  • Tersangka MFM.
  • Tersangka WNW.
  • Tersangka NPWH alias EH.
  • Tersangka SR.
BACA JUGA:  Jaksa Agung Prof. ST Burhanuddin Meraih Life Achievement Award dari Dewan Pengurus KORPRI

Direktur Penyidikan menyampaikan bahwa perkara atas nama Tersangka NPWH alias EH dan Tersangka SR adalah perkara yang berbeda dengan perkara induk/pokok. Adapun perkara induk tersebut ialah perkara tentang proyek tindak pidana korupsi penyediaan infrastruktur BTS, sedangkan perkara atas nama Tersangka NPWH alias EH dan Tersangka SR merupakan perkara tentang upaya-upaya lain di luar perbuatan tersebut.

“Setelah mencermati perkembangan hasil penyidikan di persidangan dan pencarian alat bukti lain sudah ditemukan, Tim Penyidik melakukan upaya paksa penangkapan terhadap Tersangka SR dan penggeledahan di kediaman yang bersangkutan,” ujar Ketut Sumedana.

Terkait status Tersangka SR, Kapuspenkum menyampaikan bahwa sampai saat ini status yang bersangkutan ialah pihak swasta murni. Terkait status lain yang masih dipertanyakan, Tim Penyidik masih melakukan pendalaman terhadap hal tersebut.

BACA JUGA:  Jadi DPO, Johansyah alias Bagong Dijemput dari Malaysia, Ini Kasusnya

Selanjutnya, mengenai pasal-pasal yang disangkakan terhadap Tersangka NPWH alias EH, Kapuspenkum mengatakan bahwa pasal gratifikasi dan pasal penyuapan digunakan karena status yang bersangkutan merupakan seorang penyelenggara negara yang menjabat sebagai komisaris di salah satu perusahaan BUMN.

Tim Penyidik akan terus mendalami terkait aliran dana sebesar Rp15 miliar yang terlibat dengan Tersangka NPWH alias EH. Direktur Penyidikan menambahkan bahwa perkara korupsi ini berbeda dengan perkara yang lain karena terkait dengan penyerahan sejumlah uang, sehingga alat bukti yang diperlukan harus tepat dan lengkap.

“Karena peristiwa penyerahannya sudah lewat, merupakan sebuah tantangan bagi Tim Penyidik untuk merekonstruksi ulang proses-proses yang terpisah. Alat bukti saksi saja tidak cukup, kami masih memerlukan bukti lain untuk dilakukan pendalaman,” ujar Direktur Penyidikan.

BACA JUGA:  Diduga Korupsi, Bendahara Setda Seram Timur Ditahan  

Terakhir, terkait isu yang beredar mengenai pihak Kejaksaan yang menerima aliran dana dari tersangka NPWH alias EH, Direktur Penyidikan menyatakan agar tidak Percaya Terhadap Pihak-Pihak yang Mengaku Bisa Mengurus Perkara di Kejaksaan. (M-011)

  • Editor: Daton