Penataan Infrastruktur Jelang KTT G-20 Serap 33 Ribu Tenaga Kerja di Bali

Peningkatan infrastruktur jelang KTT G20 di Bali. (Foto: dok. kementerian PUPR)
Peningkatan infrastruktur jelang KTT G20 di Bali. (Foto: dok. kementerian PUPR)

DENPASAR,MENITINI-Penataan berbagai infrastruktur menjelang KTT G-20 di Bali sangat masif. Penataan berbagai infrastruktur ini menggunakan APBN menuju KTT G-20 dilakukan di 12 titik berskala besar atau mega proyek. Ke-11 titik penataan berskala besar tersebut antara lain, ruangan VVIP Bandara Ngurah Rai, penataan Simpang Dewa Ruci, jalan tol Bali Mandara, reservasi peningkatan jalan nasional di seluruh titik, reservasi dan peningkatan Simpang Siligita-Kempisky, reservasi kawasan Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), reservasi dan peningkatan Hotel The Apurva Kempisky, penataan kawasan Mangrove di Tahura Ngurah Rai, rehabilitasi Waduk (Estuari Dan) Suwung, pembangunan Embung Sanur, penataan kawasan GWK di Kuta Selatan, pembangunan Pelabuhan Segitiga Sanur-Nusa Lembongan-Nusa Penida.

BACA JUGA:  Hilangkan Kesan Kumuh dan Semrawut, Penataan Pasar Kedonganan Bertahap

Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, berbagai penataan mega proyek dalam rangka persiapan KTTG-20 ini menjadi bagian positif bagi Bali dan Indonesia. Di berbagai proyek tersebut telah menyerap banyak tenaga kerja baik dari Bali maupun dari berbagai daerah lainnya di Indonesia.

“Ada sekitar 33 ribu orang tenaga kerja yang terserap dalam berbagai pembangunan mega proyek tersebut. Mereka berasal dari Bali dan dari berbagai daerah lainnya di Indonesia. Ini sangat menguntungkan bagi Indonesia,” ujarnya saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, apakah tenaga kerja berasal dari Bali maupun dari berbagai wilayah di Indonesia itu tidak menjadi masalah untuk dibahas. Asalkan anak-anak bangsa ini bisa mendapatkan kerja selama kurang lebih dua tahun menganggur akibat pandemi Covid19.

BACA JUGA:  Bandara Ngurah Rai Layani Lima Juta Penumpang, Bulan Agustus Dominan Turis Domestik

Ia melanjutkan, serapan 33 ribu lebih tenaga kerja tersebut belum dihitung dengan dampak tak langsung lainnya. Dampak tak langsung lainnya yakni serapan material, sektor non formal seperti penjualan makanan kecil, minuman, gorengan, dan sebagainya.

“Semuanya berdampak. Bila mereka datang dari luar daerah maka mereka butuh makan, butuh minum, butuh menginap, butuh transportasi. Jadi semuanya sama sama maju. Sudah saatnya tidak bisa lagi berpikir ego sektoral,” urainya. Penataan berbagai infrastruktur tersebut harus juga berdampak bagi masyarakat. Masyarakat yang paling kecil pun harus bisa ikut menikmati dampak berbagai mega proyek penataan infrastruktur jelang KTT G-20. M-006