Ritual dan praktik spiritual yang berkembang sebagai adat istiadat dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, lanjutnya, menjadi kekuatan utama Bali. Kebiasaan ini sekaligus menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan untuk berkunjung.
“Lestarikan budaya lokal, karena kekuatan itu letaknya ada pada kebudayaan dan adat istiadat,” tegasnya.
Pemprov Bali juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keseimbangan hidup secara sekala (duniawi) dan niskala (spiritual). Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi serta penguatan nilai-nilai adat, budaya, dan kebiasaan yang menjunjung tinggi sopan santun, etika, moral, norma, serta toleransi.
“Untuk terus menjaga Bali dengan budaya, adat dan istiadatnya, saya harapkan para sulinggih terus menegakkan betul dresta Bali, dan jangan sampai meluntur,” kata Koster.
Sementara itu, Manggala Uttama SHKDN Pusat, Dang Dhira Rajya Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemprov Bali. Ia menegaskan bahwa para sulinggih akan tetap konsisten menjalankan tugas menjaga Bali secara niskala.
Menurutnya, keseimbangan antara sekala dan niskala akan melahirkan kedamaian dalam berpikir, berkata, dan berbuat, sejalan dengan visi dan misi pembangunan pemerintah daerah dalam menjaga Bali secara menyeluruh.*
- Editor: Daton








