Menurut Hanif, Muslimat NU memiliki kemampuan unik menyentuh unit terkecil masyarakat, yakni rumah tangga, yang selama ini menjadi titik awal persoalan sampah. Dengan struktur organisasi yang kuat hingga pelosok daerah, Muslimat NU dinilai mampu menjadi motor penggerak budaya hidup bersih secara masif.
“Di tengah ancaman krisis iklim global dan meningkatnya bencana hidrometeorologi, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi kewajiban moral dan bagian dari nilai keimanan serta kebangsaan,” tegas Hanif.
Sebagai langkah konkret, KLH/BPLH mengintegrasikan peran Muslimat NU dalam Program Bersih Sampah Nasional (PROBERNAS) yang telah disepakati bersama Kementerian Dalam Negeri. Program ini akan mendorong pelaksanaan aksi bersih sampah secara rutin setiap Jumat, dimulai dari lingkungan rumah, RT dan RW, hingga tingkat daerah.
Melalui program tersebut, Muslimat NU diharapkan menjadi pelopor edukasi pemilahan sampah dari sumbernya serta menjaga area prioritas agar tidak kembali dipenuhi timbulan sampah baru. Pendekatan ini sekaligus diarahkan untuk membangun fondasi ekonomi sirkular berbasis komunitas.









