Labuan Bajo Memanas, Komisi X DPR Segera Panggil Menparekraf

Sandiaga Salahudin Uno
Sandiaga Salahudin Uno. (foto: dok)

JAKARTA,MENITINI.COM-Aksi unjuk rasa dan mogok massal para pelaku wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (1/8/2022), menjadi sorotan anggota dewan di Senayan.

Mengutip Kantor Berita Politik MOL.ID,  Komisi X DPR RI bakal memanggil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno untuk memberikan kejelasan. Termasuk dari pihak Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo-Flores (BPOLBF) dan PT Flobamora.

“Kami akan mengagendakan RDP pada masa sidang yang akan datang,” tegas anggota Komisi X DPR RI, Andreas Hugo Pareira, kepada wartawan, Rabu (3/8) dikutip RMOL.ID.

Andreas menilai, aksi mogok massal pelaku wisata di Labuan Bajo dipicu oleh dua hal. Pertama, karena tarif ke Taman Nasional Kawasan Wisata Komodo yang naik drastis menjadi Rp 3,75 juta.

Kenaikan tarif tersebut, kata Andreas, membuat para pelaku wisata di Labuan Bajo khawatir akan berimbas terhadap berkurangnya kunjungan wisatawan.

BACA JUGA:  Promo Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri 1447 H, Hotel di Kawasan ITDC Tawarkan Paket Iftar hingga Nyepi Retreat

“Yang tentunya akan berimbas pada pelaku wisata dan ekraf yang baru saja mulai pulih dari situasi pandemi, dengan mulai kembali ramainya kunjungan wisata ke Labuan Bajo,” ujar Andreas.

Politikus PDIP ini pun menilai wajar kekhawatiran yang dirasakan para pelaku wisata dan ekonomi kreatif di Labuan Bajo, sebagaimana pelaku wisata daerah lain yang benar-benar terpukul oleh pandemi.

“Kedua, meskipun demonstrasi menentang kenaikan tarif ke kawasan TN Komodo ini sudah dijawab dengan ditetapkannya kunjungan ke pulau Rinca tetap dengan tarif yang berlaku, artinya tidak ada kenaikan,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, tarif masuk ke pulau Padar dan Komodo tetap dinaikan menjadi Rp 3,75 juta dengan alasan untuk kepentingan konservasi yang berbiaya mahal, sebagaimana penjelasan Pemda NTT.

“Penjelasan ini tampaknya tidak menyurutkan aksi mogok massal pelaku wisata,” kata Andreas.

Andreas menuturkan, soal urgensi konservasi untuk pulau Komodo dan Padar semua telah sepakat. Hal ini memang untuk kepentingan keberlanjutan hidup hewan purba varanus comodensus dan habitat aslinya di Komodo dan Padar.

BACA JUGA:  Perempuan Indonesia Bangun Kemandirian Ekonomi dari Rumah Lewat Airbnb

“Namun, penyebab mogok massal ini juga dipicu juga oleh ketidakpercayaan pelaku wisata akan motif alasan kenaikan tarif dengan diberikan hak monopoli oleh Pemda NTT kepada BUMD Flobamora untuk menetapkan tarif dan mengelola TN Komodo,” papar Andreas.

Lebih lanjut Andreas mengusulkan, Pemda NTT dan perwakilan organisasi-organisasi pelaku wisata duduk bersama untuk mencari solusi demi menghentikan aksi-aksi demo di Labuan Bajo.

“Situasi Labuan Bajo dengan suguhan aksi-aksi demo merupakan suguhan yang buruk bagi wisatawan dan negatif campaign untuk Labuan Bajo-Flores. Kalau demo mogok massal ini berlangsung terus, lama kelamaan wisatawan enggan dan tidak nyaman berkunjung ke Labuan Bajo-Flores,” demikian Andreas.

 

Sumber: RMOL.ID

Iklan

BERITA TERKINI

Walikota Ambon, Drs. Bodewin M Wattimena, M.Si.

17 Program Prioritas Pemerintah Kota Ambon

AMBON, MENITINI – Pemerintah Kota Ambon menetapkan 17 program prioritas pembangunan sebagai fokus utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Program ini dijalankan sebagai bagian dari arah

TEKNO

OLAHRAGA

PERISTIWA

NASIONAL

DAERAH

HUKUM

POLITIK

LINGKUNGAN

Di Balik Foto

BERITA TERKINI

Indeks>>

Scroll to Top