Kualitas Udara Jakarta Buruk, Usia Harapan Hidup Berkurang

Kualitas udara buruk, rapor merah Jakarta - pexels
Kualitas udara buruk, rapor merah Jakarta - pexels

DENPASAR, MENITINI.COM – Ibukota negara sudah umum menjadi cerminan dari suatu negara keseluruhan. Baik dari gaya hidup, pola kerja dan perkembangan teknologi. Sayangnya, tidak dengan Jakarta. Ibukota kita kembali mendapat rapor merah untuk urusan lingkungan. Jakarta menempati peringkat kota paling tercemar dengan kualitas udara terburuk sedunia. Bukan hanya sekedar angka, hasil ini juga terkait dengan usia harapan hidup penduduk jangka panjang. Berdasar hasil pengukuran Air Quality Index (AQI) dan laporan polusi udara oleh IQAir hingga data terakhir Senin pagi kemarin, AQI ibu kota mencapai 196. Angka ini cukup berpotensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan baik secara langsung maupun tak langsung. Apalagi bagi penderita asthma.

Harapan Hidup dan Imbas Revisi

Berdasarkan data Energy Policy Institute University of Chicago, penduduk di Jakarta diperkirakan kehilangan tiga hingga empat tahun harapan hidup akibat polusi udara. Selain Jakarta, daerah sekitar Mandalay dan Hanoi akan kehilangan estimasi harapan hidup rata-rata tiga hingga empat tahun jika terus menerus dalam paparan serupa. Hampir seluruh wilayah Asia Tenggara memiliki tingkat polusi yang tidak aman. Bahkan ada yang mengalami peningkatan sebanyak 24 persen di beberapa wilayah. Tidak diam, Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga merevisi tingkat aman paparan polusi dari semula 10 mikrogram per meter kubik menjadi lima mikrogram per meter kubik. Laporan ini berimbas bahwa sebagian besar dunia, atau 97,3 persen dari populasi global menuju ke zona tidak aman.

BACA JUGA:  Jangan Pulang Dulu, Setelah Disuntik Vaksin Covid-19, Tunggu 30 Menit

Himbauan Pencegahan

Seperti kita ketahui bersama, Jakarta sudah terkenal dengan panas yang menyengat. Sayangnya, panas ini sebagai imbas dari polusi dan emisi kendaraan berlebih. Beberapa daerah yang menyandang kualitas udara terburuk di Jakarta antara lain Rawa Buaya, Jakarta Pusat, dan Kemang. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan dengan kualitas udara yang buruk dihimbau untuk lebih berhati-hati dan menjaga imunitas tubuhnya agar tetap sehat.

Tidak hanya Jakarta, Pulau Jawa keseluruhan juga menjadi sorotan karena merupakan pusat industri. Selama tahun pertama pandemi COVID-19, wilayah sekitar Jakarta seperti Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang mengalami penurunan tingkat polusi sebesar 16%. Namun penurunan tersebut hanya mampu menurunkan tingkat pencemaran hingga 30,1 mikrogram per meter kubik. Angka ini tentu masih sangat jauh dari standar kualitas WHO. Apabila wilayah tersebut berhasil memenuhi pedoman WHO, sekitar 29 juta penduduk akan mendapatkan peningkatan rata-rata harapan hidup 2,5 tahun.

BACA JUGA:  Jangan Lengah, Omicron Makin Bertaji!

Untuk melindungi dari polusi udara yang semakin memburuk, warga disarankan untuk menggunakan masker saat keluar rumah atau beraktivitas di luar rumah, mengurangi aktivitas luar rumah atau ruangan terbuka, menutup jendela untuk menghindari udara kotor, dan melengkapi ruangan dengan alat penjernih udara. Selain itu penggalakan moda transportasi massal juga dapat membantu perbaikan kualitas udara akibat turunnya jumlah kendaraan pribadi yang berkontribusi pada emisi. Berdasarkan IQAir, polusi udara telah menyebabkan 5.100 kematian di Jakarta pada tahun 2021. Penyebab utama penurunan kualitas udara adalah tingginya akumulasi emisi gas dari kendaraan dan emisi dari industri yang diterima dan dihirup oleh masyarakat Jakarta. Mobilitas masyarakat yang tinggi, penggunaan kendaraan pribadi yang meningkat dan minimnya ruang terbuka hijau dengan pepohonan semakin memperburuk keadaan. (M-010)