Jenderal Bintang Dua Ini Sesalkan Warga Ingkar Janji Damai

Kapolda Maluku, Irjen Pol Lotharia Latif. (Foto: M-006)
Kapolda Maluku, Irjen Pol Lotharia Latif.

AMBON,MENITINI.COM – Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Irjen Pol Drs Lotharia Latif, S.H., M.Hum menyesalkan konflik antar warga yang kembali terjadi di Bombai dan Elat. “Mereka telah mengingkari perjanjian damai, pasca bentrok 6 Oktober lalu.”

Awal konflik tanggal 6 Oktober, kedua pihak sudah sepakat damai dan saling jaga kamtibmas. Tapi nyatanya kesepakatan itu juga diingkari lagi. Ini yang patut kita sesalkan karena lain diomongan lain dikenyataan, kata Lotharia, Minggu (13/11/2022).

Konflik ini, selain menimbulkan korban jiwa dan material, juga akan berdampak buruk bagi generasi muda mendatang. Mereka akan terus hidup dihantui dengan saling permusuhan, kata Lotharia.

Ia mengaku kedua pihak telah mencederai ikrar perjanjian damai pasca konflik yang terjadi 6 Oktober 2022 lalu. “Kasihan anak-anak dan generasi mendatang yang terus akhirnya terbawa pada situasi seperti ini,” ucapnya.

BACA JUGA:  Hujan Protes Iringi Eksekusi Lahan di Batu Merah, Polisi Dituding Tidak Netral

Lotharia terus menghimbau masyarakat agar jangan ada lagi konflik dan pertikaian yang menyebabkan korban baik jiwa, luka maupun materi. “Daerah lain sudah maju membangun untuk kesejahteraan, sementara kita di sini masih sibuk berkelahi antar sesama,” pungkasnya.

Dikatakan, Maluku merupakan daerah yang kuat dan akan maju sejahtera apabila masyarakatnya tetap bersatu, menjunjung tinggi budaya pela gandong.

“Maluku ini hebat dan kuat kalau masyarakatnya bersatu, wujudkan pela gandong untuk menjaga kehidupan antar sesama, saling menghormati dan mengasihi,” tuturnya.

Ia meminta masyarakat Maluku, terlebih khusus warga Bombai dan Elat, agar dapat menyelesaikan setiap persoalan menggunakan pikiran jernih, hati yang dingin, dan tidak menggunakan kekerasan.

BACA JUGA:  VIDEO Bentrok Antar Dua Desa di Tual Kembali Terjadi

“Selesaikan setiap persoalan dengan cara-cara damai tanpa perlu kekerasan yang hanya membawa stigma buruk bagi Maluku,” pinta Lotharia. (M-009).