Ini Isi Lengkap G20 Bali Leaders Declaration

Suasana KTT G20 di Nusa Dua, Badung Bali. (Foto: screenshoot Youtube Setpres)
Suasana KTT G20 di Nusa Dua, Badung Bali. (Foto: screenshoot Youtube Setpres)

BADUNG,MENITINI.COM-Gelaran KTT G20 telah selesai digelar dan menyepakati deklarasi bersama pada puncak presidensi KTT G20 di Nusa Dua, Badung 15-16 November 2022. Sebanyak 52 poin kesepakatan termuat dalam dokumen deklarasi berjudul G20 Bali Leaders Declaration itu.

“Kepemimpinan Indonesia berhasil menghasilkan deklarasi pemimpin G20, G20 Bali Leader Declaration yang awalnya diragukan banyak pihak. Deklarasi terdiri atas 52 paragraf,” ujar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam konferensi pers usai menutup KTT G20, Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11/2022).

Berikut isi G20 Bali Leaders Declaration

Poin pertama: Menyuarakan komitmen bersama para pemimpin negara G20 bahwa sejak pertama kali mereka bertemu dalam acara KTT yang diselenggarakan 14 tahun lalu, 14 November 2008, G20 akan selalu menjadi forum premier kerja sama ekonomi global untuk menghadapi tantangan ekonomi dunia.

Poin kedua dan ketiga: Menggambarkan sejumlah krisis yang telah dihadapi dan menjadi pengalaman bersama untuk menyelesaikan masalah mendatang. Pada tahun ini, krisis ekonomi menurut mereka dipicu oleh peperangan antara Rusia dan Ukraina, hingga mengganggu rantai pasokan, inflasi, hingga kerawanan energi dan pangan, serta meningkatnya risiko stabilitas keuangan.

BACA JUGA:  Tangkal Hoaks, Galakan Terus Bela Bangsa dan Negara

“Kami menyadari bahwa G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan, tapi permasalahan keamanan ini dapat memberikan konsekuensi yang signifikan terhadap ekonomi global,” sebagaimana dikutip dari dokumen deklarasi.

Poin keempat: Mereka menyatakan pentingnya perdamaian karena era saat ini menurut mereka bukan lagi zamannya untuk perang. Sementara itu poin ke lima adalah komitmen mereka untuk bersama-sama menggunakan seluruh instrumen kebijakan untuk bangkit bersama dari berbagai permasalahan ekonomi terkini.

Poin keenam hingga 10, para pemimpin negara sepakat untuk menyikapi permasalahan ketahanan pangan global yang muncul akibat peperangan di Ukraina. Diantaranya dengan mendukung segala upaya untuk menjaga berfungsi dengan baiknya rantai pasokan pangan, hingga mempromosikan investasi dalam riset pengembangan agrikultur dengan pendekatan science.

BACA JUGA:  BP2MI Evakuasi 30 Terapis Bali dari Ukraina

Pada poin ke-11, para pemimpin G20 menyepakati upaya penanganan bersama terhadap masalah perubahan iklim dan krisis energi yang diperparah oleh konflik geopolitik. Demikian pula pada poin ke-12 yang menjadikan Bali Compact dan Bali Energy Transition Roadmap sebagai pedoman untuk menyelesaikan masalah krisis energi.

Hingga poin ke-18, para pemimpin negara-negara G20 menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan masalah ini. Terutama dengan mendukung the 2022 G20 Sustainable Finance Report serta pendorong kebijakan untuk transisi energi melalui insentif pembiayaan dan investasi.

Untuk poin ke-19 hingga 23, deklarasi yang disepakati para pimpinan negara anggota G20 ini tertuju pada komitmen untuk mempromosikan pemulihan bidang kesehatan yang berkelanjutan. Terutama setelah munculnya Pandemi Covid-19 yang disusul dengan wabah cacar monyet. Ini termasuk mendukung keberadaan Pandemic Fund, sampai transfer teknologi vaksin.

BACA JUGA:  Anak Flotim Gagal Magang Berkicau Lagi: Selama di Bali Tak Ada Fasilitas Mewah untuk Kami

“Kami mendukung kelanjutan dialog dan kolaborasi internasional dalam pembentukan jaringan kesehatan digital global terpercaya sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat pencegahan dan respons terhadap pandemi di masa depan,” ujar mereka.

Poin ke-24 sampai dengan ke-26 kesepakatan deklarasi berkenaan tentang upaya bersama mengakselerasi transformasi ekosistem digital dan ekonomi digital. Mereka menganggap teknologi digital menjadi kunci untuk bangkit dari dampak pandemi hingga menjaga keberlanjutan pengembangan kapasitas manusia di segala sektor.

“Sangat penting untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam upaya kita untuk mengubah masyarakat kita secara digital, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk pemuda, perempuan, sektor bisnis, lembaga audit, parlemen, ilmuwan, dan buruh,” ujar para pimpinan G20 dalam deklarasi tertulis.