Hoarding Disorder: Kasus Kos Viral Penuh Sampah

Kos viral gara-gara hoarding disorder
Kos viral gara-gara hoarding disorder - pexels

DENPASAR, MENITINI.COM – Masih ingat kisah kos viral di TikTok baru-baru ini? Singkat cerita penghuni kos ini hilang tanpa berita. Sang pemilik masuk ke kamar untuk mengetahui keberadaan si penghuni bernama Nia ini. Kaget bukan kepalang ketika pemilik membuka kamar tersebut penuh sampah dan rongsokan. Notabene penghuni sebelumnya dinilai berpenampilan rapi dan bersih.

Bagaimana bisa?

Netizen pun berspekulasi. Salah satu dugaan adalah sosok Nia ini menderita gangguan penimbunan alias hoarding disorder. Jadi, terlepas dari penampilan hariannya, ia hobi menimbun barang di tempat yang menjadi teritorinya. Mari simak fakta seputar hoarding disorder berikut!

Apa itu Hoarding Disorder?

Orang dengan hoarding disorder memiliki kesulitan yang terus-menerus untuk menyingkirkan atau berpisah dengan barang karena kebutuhan untuk menyimpan barang-barang tersebut. Membuang barang dipandang sebagai upaya untuk berpisah dengan harta sehingga menciptakan kesulitan yang cukup besar. Hal ini menimbulkan kekacauan yang mengganggu kemampuan untuk menggunakan ruang gerak kehidupan.

Menimbun tidak sama dengan mengumpulkan. Benda-benda yang diperoleh oleh orang-orang dengan hoarding disorder tidak memiliki tema yang konsisten, sedangkan barang-barang kolektor terfokus pada topik tertentu. Selain itu, kenampakannya selalu berupa kekacauan yang tidak terorganisir. Umumnya, penderita gangguan ini juga menderita gangguan terkait kecemasan dan depresi.

BACA JUGA:  Pencegahan Klaster Pasar, GTPP Kota Denpasar Lakukan Tiga Langkah Ini

Hoarding disorder dapat menyebabkan masalah dalam hubungan, aktivitas sosial, pekerjaan, dan area fungsi penting lainnya. Konsekuensi potensial dari penimbunan yang serius termasuk masalah kesehatan dan keselamatan, seperti bahaya kebakaran, bahaya tersandung, dan pelanggaran kode kesehatan. Sering juga menyebabkan ketegangan dan konflik keluarga, isolasi dan kesepian, dan ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari.

Diagnosis Hoarding Disorder

Walau bukan diagnosis resmi pisikiatri, pada tahun 2013 Asosiasi Psikiatri Amerika telah merangkum beberapa gejala. Gejala spesifik untuk diagnosis ini harus memenuhi kriteria berikut:

  • Kesulitan terus-menerus membuang atau berpisah dengan harta benda, terlepas dari value
  • Kesulitan disebabkan kebutuhan untuk menyimpan barang-barang dan kesulitan yang diakibatkan.
  • Mengakibatkan akumulasi dan mengacaukan ruang hidup aktif dan secara substansial membahayakan penggunaan.
  • Jika tempat tinggal tidak berantakan, itu hanya karena campur tangan pihak ketiga.
  • Penimbunan menyebabkan kesusahan atau masalah sosial, pekerjaan atau area fungsi penting lainnya.
BACA JUGA:  Diet Pescatarian ala Victoria Beckham, Berani Coba?

Beberapa individu dengan hoarding disorder mungkin mengenali dan mengakui bahwa mereka memiliki masalah dengan mengumpulkan benda. Selain ciri-ciri inti yang sudah disebutkan, banyak pengidap juga memiliki masalah terkait perfeksionisme, penundaan, disorganisasi, dan kesulitan fokus. Kadang diagnosis ini juga disertai gangguan mental lainnya seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan defisit perhatian/hiperaktivitas atau penyalahgunaan alcohol. Fitur-fitur terkait dapat berkontribusi besar terhadap tingkat keparahan secara keseluruhan.

Penyebab dan Penanganan

Sejauh ini, penyebab gangguan penimbunan tidak diketahui. Pengidap hoarding disorder lebih umum di antara individu dengan anggota keluarga yang memiliki masalah serupa. Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan dan traumatik dapat memperburuk gejala. Gangguan ini memiliki profil gejala, korelasi saraf, dan fitur yang berbeda dari gangguan kompulsif. Pada kasus penimbunan, terdapat sejumlah defisit pemrosesan informasi, perencanaan, pemecahan masalah, pembelajaran visuospasial dan memori, perhatian berkelanjutan, memori kerja, dan organisasi. Sebagian besar penelitian melaporkan onset antara usia 15-19 tahun. Pengenalan dini, diagnosis, dan pengobatan sangat penting untuk meningkatkan hasil.

BACA JUGA:  Wapres Gelorakan Semangat Tiada Hari tanpa Olahraga

Perawatan dan penanganan sedini mungkin dapat membantu penderita mengurangi gejala, kekacauan, hidup lebih aman dan menyenangkan. Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu pengobatan yang efektif. Selama CBT, individu secara bertahap belajar membuang barang-barang yang tidak perlu dengan lebih sedikit tekanan. Hal ini sekaligus bertujuan untuk mengurangi kebutuhan atau keinginan berlebihan untuk menyelamatkan barang-barang yang tidak perlu. Mereka juga akan belajar untuk meningkatkan keterampilan seperti organisasi, pengambilan keputusan, dan relaksasi.

Pada beberapa kasus, CBT sendiri tidak terlalu efektif dan harus dibarengi dengan terapi medikamentosa. Kombinasi ini harus dipertimbangkan hanya setelah mencoba terapi perilaku. Bagi sebagian orang, obat-obatan sangat membantu dan dapat memperbaiki gejala. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala hoarding disorder, hubungi dokter atau profesional kesehatan mental. Terdapat juga dukungan komunitas pada lembaga kesehatan masyarakat yang mengkhususkan untuk menangani kasus demikian. Jadi jangan sampai menunggu berlarut-larut seperti kasus Nia ya. (M-010)