“Kemajuan artificial intelligence harus diiringi dengan penguatan logika, nalar kritis, dan etika berpikir. Manusia harus tetap menjadi pengendali utama teknologi demi masa depan yang beradab dan berkualitas,” ujar Koster.
Ia juga menekankan peran strategis dunia pendidikan dalam memastikan pemanfaatan AI tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Kampus, kata dia, tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang cakap teknologi, tetapi juga mampu berpikir bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.
Sementara itu, Rocky Gerung dalam paparannya mengajak sivitas akademika untuk memandang AI sebagai tantangan intelektual, bukan ancaman. Menurutnya, kehadiran kecerdasan buatan justru menuntut manusia untuk semakin tajam dalam menguji logika dan argumentasi.
“Artificial intelligence bukan pengganti nalar manusia. AI harus diuji, dikritisi, dan dipertanyakan argumennya. Jangan hanya bertanya pada AI, tetapi uji logika dan kesimpulannya,” tegas Rocky.
Rocky menjelaskan bahwa AI bekerja berdasarkan kecepatan komputasi dan pola pembelajaran artifisial, sementara manusia berpijak pada pengalaman, kesadaran, nilai, serta moralitas. Di situlah perbedaan mendasar antara mesin dan manusia, yang tidak bisa digantikan teknologi.









