Buntut Lima Anak Tak Magang ke Luar Negeri, Bupati Flotim : Saya Minta Maaf, Kalian Dua Tahun di Bali

Bupati Anton Hadjon (duduk tengah) foto bersama anak anak yang gagal magang didampingi pengacara Yulius Benyamin Seran (dua dari kiri)

DENPASAR, MENITINI.COM — Bupati Flores Timur (Flotim), Antonius Gege Hadjon langsung turun tangan melihat kenyataan di lapangan. Orang nomor satu di tanah Flotim ini datang ke Bali mendengar keluhan lima warganya yang sudah dua tahun tak diberangkatkan magang ke luar negeri. Akibat dari tak jadi berangkat magang, lima anak ini membuat pengaduan ke Polresta Denpasar beberapa waktu lalu

Saat bertemu peserta magang yang juga pelapor, Bupati Anton Hadjon mendengarkan semua keluhan. “Mereka ini, ada yang berposisi sebagai anak dan adik saya. Saya minta maaf kalian sampai dua tahun di Bali,” kata Anton Hadjon  di Denpasar, Kamis (17/9/2020). Turut mendampingi bupati, Kepala Bagian Hukum Setda Flotim, Yordanus Hoga Daton, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, AB Matutina, dan Kasubag Protokol Humas, Yohanes Kowa Kleden. 

Seperti dikutip Surat Kabar POS BALI, Jumat (18/9/2020) Bupati menjelaskan, kerjasama antara Pemda Flotim dengan LPK Darma adalah magang ke Jepang dan magang sambil kuliah di Taiwan. Program itu disambut baik karena banyak pemuda Flotim yang tak bisa melanjutkan kuliah.  “Saat itu kami berpikir kuliah sambil kerja ini adalah program yang sangat baik. Artinya kami Pemda Flotim tidak ada niat buruk mengirim anak-anak ini. Saya sering memantau anak-anak ini. Karena mereka ini adik-adik dan anak-anak saya juga,”kata Bupati Anton yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Flotim.

BACA JUGA:  Kejahatan Skiming dengan Pelaku Bulgari Makin Marak di Bali

Lanjutnya, setelah tak ada kejelasan dan mulai ramai dibicarakan, pada 17 Juli 2020 Pemkab Flotim melakukan pertemuan dengan orang tua. Dalam pertemuan itu selaku bupati membuat pilihan-pilihan. Pertama, kalau mau terus ikut program bisa tetap menunggu di Bali atau pulang ke kampung sambil menunggu kelanjutan program magang ke luar negeri. Kedua, orangtua dipersilahkan untuk pilih berhenti mengikuti program tersebut.  “Saat itu banyak orangtua memilih untuk anaknya bertahan di Bali. Anak-anak yang berhenti mengikuti program kerjasama ini tidak menyampaikan kepada Pemda Flotim. Ternyata bulan Agustus kemarin ramai dibicarakan. Akhirnya saya tugaskan asisten dan Kadis Tenaga Kerja datang melihat langsung ke Bali,” ceritanya

Setelah mendapat laporan dari Asisten dan Kadis Tenaga Kerja, selaku Bupati Flotim dirinya meminta memulangkan anak-anak yang tidak ada kepastian berangkat. “Saya datang ke sini hari ini (kemarin-red) untuk menemui anak-anak dan adik-adik saya yang masih di Bali. Apa yang terjadi, dan maunya apa. Selain itu, saya datang ini untuk bertemu dengan LPK Darma,” tuturnya. 

BACA JUGA:  PERINTAH KAPOLRI! Reserse Tindak Tegas Kejahatan di Masa Covid -19

Hasil pertemuan dengan anak anak dan LPK Darma akan dipertimbangkan mengambil keputusan. Apa yang disampaikan anak anak sekaligus pelapor ini akan dibicarakan saat bertemu dengan LPK Darma. “Saya datang untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.  Jangan sampai satu meter bisa jadi 10 meter. Yang bulat jadi segi empat. Saya mau dengar langsung. Itu hal yang paling penting saya dengarkan,” tegasnya.

Sementara penasihat hukum para pelapor, Yulius Benyamin Seran menyambut baik kedatangan Bupati Hadjon. Pengacara muda NTT ini menegaskan, ia mendampingi para korban tidak ada tendensi apapun selain rasa kemanusiaan.

Benyamin menegaskan, tetap melakukan gugatan perdata terhadap kasus tersebut.  “Kami mengambil langkah murni untuk melindungi hak asasi manusia. Selain itu, untuk tidak ada lagi korban lain dari program ini. Kejadian ini tidak hanya dialami oleh anak-anak dari Flotim tapi juga dari daerah lain,”  kata Benyamin didampingi oleh rekannya, Charlie Usfunan. dik/edo/poll

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*