Senin, 24 Juni, 2024

Ketua DPRD Lobar Hj. Nurhidayah (tengah) Pj) Sekda Lobar Fauzan Husnadi (kiri) saat memperkenalkan buku. (Foto: M-003)

MATARAM, MENITINI.COM – Pandemi Covid-19 telah memukul sektor pariwisata di Lombok, Provinsi NTB, termasuk kawasan Senggigi. Di tengah kondisi itu, semangat untuk bangkit terus didorong. Salah satunya melalui penerbitan buku Jalan Baru Pariwisata Lombok Barat (Lobar). 

Inisiator buku Jalan Baru Pariwisata Lombok Barat (Lobar), Hj Nurhidayah, mengatakan bahwa ide awal diterbitkannya buku setebal 164 halaman itu, adalah keprihatinannya, lantaran selama ini justru pemerintah, baik pusat dan Pemprov NTB, lebih banyak mempromosikan kawasan Mandalika, di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) secara besar-besaran. 

Akibatnya, ikon pariwisata Provinsi NTB, yang sedari awal digaungkan yakni, Pantai Senggigi, justru terkesan dilupakan 

“Saya ini, sempat jalan-jalan ke Jakarta, tapi sebagian besar warga disana, mereka tahunya adalah Pantai Mandalika, padahal Mandalika itu baru dikenalkan karena ada balap MotoGP. Inilah akibat dari promosi besar-besaran yang dilakukan. Disini, jujur saya miris kok bisa, ada sedikit yang tahu soal Pantai Senggigi,” ujar Nurhidayah saat menyampaikan sambutannya, Senin Sore (20/5/2024). 

Menurut Ketua DPRD NTB Lobar ini, dari hasil penelusuran yang dilakukannya justru, kenapa kawasan Pantai Senggigi banyak dilupakan oleh banyak wisatawan. 

Hal ini, lantaran Pantai Senggigi dirasa kurang terang alias gelap di malam hari dan kotor. “Jadi, sisi gelap ini yang membuat saya tergugah karena potensi pariwisata Lobar ini sangat tinggi dengan memiliki paket pariwisata yang lengkap,” tegas Nurhidayah. 

Ia mengatakan bahwa, dari 119 desa di Lobar, umumnya potensi pariwisata Lobar itu tersebar dari mulai kawasan Pantai Mangsit di Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar hingga Pantai Nambung di Sekotong. 

Kata Nurhidayah, ratusan desa di Lobar itu memiliki keunikan distinasi wisata yang menarik.   Yakni,  agrowisata di Sesaot di Lingsar hingga Kebon Melon di Kebon Ayu, Kecamatan Gerung. 

“Selama ini, perhatian distinasi wisata oleh Pemda di Lobar, idak maksimal dan kurang perhatian saja. Maka saya mencoba menggagas untuk mengenalkan wisata Lobar untuk mengulangi sejarah kebangkitan pariwisata Lobar kedepannya melalui buku yang saya buat ini,” jelas dia. 

Lebih lanjut dikatakan Politisi Gerindra ini, pariwisata Lobar, justru masih banyak yang belum dieksplorasi. Di mana, dalam buku ini dirinya mengenalkan dan memotret sebanyak 64 distinasi wisata unggulan. 

Nurhidayah mencontohkan bahwa Kabupaten Lobar memiliki sebanyak tujuh Gili yang lebih indah. Salah satunya Gili Nanggu di Sekotong yang memiliki keunikan menyelam dibawah laut dengan memberikan makan ikan. 

Selanjutnya di kawasan Bangko-bangko Kecamatan Sekotong juga dikenal sebagai kawasan terbaik untuk berselancar di dunia. 

“Banyak distinasi indah di Lobar yang belum dikenal dan ingin lebih lagi kita kenalkan ke wisatawan. Ini adalah upaya kita untuk membangkitkan kejayaan pariwisata Lobar, utamanya kawasan Senggigi,” tegas dia.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Sekda Lobar Fauzan Husnadi mengaku dirinya kaget bahwa Ketua DPRD Lobar yang dikenalnya piawai memimpin rapat di gedung DPRD setempat, justru bisa menyempatkan waktu untuk menulis sebuah buku di tengah kesibukannya.

Karena itu, pihaknya mendukung pelaksanaan launching buku tersebut. Terlebih, Pemkab setempat kini memiliki program Reborn Senggigi. Serta berkeliling ke wilayah lainnya di Kabupaten Lobar.  

“Jadi, Senggigi reborn, untuk mengembalikan kejayaan Senggigi. Dan itu, kita mulai karena potensi kita luar biasa, karena ada komitmen besar untuk kita lakukan perbaikan pariwisata. Yakni, dengan menggandeng semua stakeholder holder pariwisata,” jelas Fauzan.

Terpisah, Ketua Sahabat Pariwisata Nusantara (Sapana) Rudy Lombok menambahkan bahwa pihaknya sangat mendukung diterbitkannya buku tersebut.

Hanya saja, pihaknya mengkritik Pemkab Lobar terikat pungutan masuk ke kawasan Taman  Narmada yang dianggapnya terlalu mahal yakni Rp 50 ribu. 

“Jadi, kenapa kami jarang membawa wisatawan kesana (Taman Narmada) selama ini. Hal ini karena tidak sesuai apa yang ditulis di papan masuk dan di buku Jalan Baru Pariwisata Lobat di papan masuk yang menyebut bahwa tiket masuk Rp 10 ribu tapi kenyataannya di lapangan angkanya Rp 50 ribu per orangnya, sehingga kami dari pelaku wisata memblack list Taman Narmada hingga Banyumulek karena tidak sesuai tarif yang ada dengan fakta lapangannya,” papar Rudy Lombok.  (*)

  • Editor: Daton