Air Laut Pasang Evakuasi Sampah Kiriman Tidak Maksimal

BADUNG,MENITINI.COM – Pasang air laut di pesisir pantai barat Kabupaten Badung membuat sampah kiriman menyerbu dan berserakan di sepanjang bibir pantai. Namun kondisi itu tak berlangsung lama dan segera  diatensi Dinas LHK Badung. 

Sayangnya, pasang air laut yang  tinggi belakangan membuat penanganan sampah kiriman tidak bisa dilakukan maksimal menggunakan alat berat.

Koordinator Deteksi Evakuasi Sampah Laut (Desalut) Dinas LHK Badung, Made Gede Dwipayana menerangkan, pasang air laut yang terjadi belakangan memang  membuat sampah kiriman menyerbu dan berserakan. Kondisi itu terjadi di wilayah Pantai Samigita. (Seminyak Legian, Kuta)

Namun hal itu  langsung disikapi  petugas di pantai. “Memang beberapa sampah sempat ikut dibawa pasang air laut, tapi jumlahnya tidak banyak dan terjadi sekali. Itu sudah kami atensi dan tangani,” ucapnya, Jumat (15/3/2024).

BACA JUGA:  Penanaman Pohon Serentak Nasional di Bali Terpusat di Desa Blimbingsari

Kondisi pasang laut yang tinggi itu merupakan siklus yang biasa terjadi saat sasih kedasa yang bertepatan dengan tilem atau purnama. Kecenderungan air laut pasang terjadi 4 hari dan mulai berangsur normal di hari berikutnya. Pasang air laut tersebut membuat proses penanganan sampah kiriman kurang maksimal. 

Sebab alat berat hanya bisa diterjunkan  setengah hari karena  air laut pasang. “Evakuasi hanya bisa kita lakukan menggunakan alat berat pada pagi hari. Kalau siang hari pasang laut sudah muncul sampai sore,” ujarnya.

Saat ini, sampah kiriman yang berserakan di pantai berjenis bambu dan kayu.  Sedangkan kayu gelondongan belum muncul sampai saat ini. Ia memperkirakan puncak musim sampah kiriman belum terjadi. Sebab pada saat puncak, sampah berupa kayu gelondongan cukup banyak. 

BACA JUGA:  Sampah Kiriman Muncul  Lagi,  Sulit Diprediksi Musim Hujan Tak Menentu

Ia memperkirakan sampah kiriman yang menepi saat ini dari sampah lokal, dimana sampah dari tengah laut belum sama sekali muncul seperti tahun tahun sebelumnya. 

Kondisi musim sampah kiriman tahun ini sulit untuk diprediksi. Sebab kecenderungan sampah kiriman biasanya terjadi pada bulan Nopember dengan masa puncak pada bulan Januari dan berakhir di bulan April. Namun tahun ini  musim sampah kiriman cenderung bergeser dan  naik turun.

“Dalam artian sampah kiriman muncul, tanpa bisa diduga berapa banyaknya sampah yang diangkut petugas pantai seperti tahun sebelumnya. Kadang hilang, kadang muncul sedikit dan kadang muncul banyak. Kalau dari jenis, sekarang belum masuk musim puncak. Tapi secara kecenderungan sudah mulai meningkat jenis sampahnya. Ini sampah dengan jenis terbesar menepi sejauh ini untuk tahun ini,” tandasnya. 

BACA JUGA:  Bali CMPP Gagal Kelola Sampah, Deputi Kemenko Marves Sarankan Kontraknya Diputus

Hal senada disampaikan  Kabid SDA Dinas PUPR Kabupaten Badung, AA Rama Putra. Musim pancaroba yang terjadi saat ini berdampak pada kondisi angin dan air laut pasang   meningkat. Kondisi itu membuat pihaknya siaga personel mengatensi sampah kiriman yang muncul ke daratan. “Kondisi sampah kiriman mulai meningkat di Samigita. Kita sudah mobilisasi alat dan stand by  personel  bertugas di lapangan,” imbuhnya. (M-003)

  • Editor: Daton