Sabtu, 18 Mei, 2024

Gerai KFC di Subang Jaya, Malaysia. (Net)

JAKARTA,MENITINI.COM-Lebih dari 100 restoran cepat saji KFC di Malaysia dilaporkan terpaksa tutup. Hal tersebut merupakan dampak boikot terhadap merek-merek asal Amerika Serikat semakin menyebar di negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia.

QSR Brands, yang mengoperasikan jaringan KFC di Malaysia, ini mengungkapkan bahwa minggu ini mereka telah menutup sementara beberapa gerainya sebagai respons terhadap situasi yang terjadi.

QSR Brands mengatakan telah mengambil tindakan proaktif, karyawan di toko yang terkena dampak ditawari kesempatan untuk pindah ke toko yang tetap buka.

“Sebagai perusahaan yang telah melayani masyarakat Malaysia selama lebih dari 50 tahun, fokusnya tetap pada penyediaan produk dan layanan berkualitas kepada pelanggan, sekaligus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Malaysia melalui keamanan kerja bagi 18.000 anggota tim di Malaysia, yang mana 85 persen darinya adalah Muslim,” menurut pernyataan perusahaan, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Sabtu (4/5/2024).

BACA JUGA:  Indonesia Desak, Resolusi DK PBB soal Gencatan di Gaza Segera Diberlakukan

Laporan surat kabar lokal Nanyang Siang Pau, mengatakan terdapat 108 gerai ditutup sementara dari sekitar 600 toko KFC di negara tersebut yang dimiliki QSR.

Seorang staf di toko KFC yang terkena dampak di Subang Jaya, negara bagian Selangor mengatakan kepada Nikkei Asia pada Kamis (2/5) bahwa gerai tersebut telah diinstruksikan untuk tutup sementara dua minggu lalu. Gerai tersebut dibuka kembali pada hari Kamis, menjual minuman, sementara kursi dan meja masih bertumpuk.

“Boikot ini sangat efektif untuk menunjukkan pesan kami menentang pendudukan di Palestina. Namun, saya juga prihatin dengan penghidupan keluarga staf yang bergantung pada pekerjaan mereka di KFC,” kata seorang pembeli berusia 40-an kepada Nikkei Asia.

BACA JUGA:  Selebgram eks Miss Ekuador Ditembak Usai Posting Foto-Lokasi Liburan

Selama beberapa bulan terakhir, merek-merek makanan dan konsumen asal Amerika Serikat mulai dari Starbucks hingga McDonald’s telah menjadi sasaran boikot di negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, Malaysia dan Indonesia di tengah kritik konsumen kepada Amerika Serikat, yang mendukung Israel dalam perangnya melawan Hamas.

Di tanah air, operator Starbucks Indonesia, MAP Boga Adiperkasa, pada Senin (29/3) mencatat rugi bersih sebesar Rp22,2 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini, turun dari laba bersih sebesar Rp13,6 pada kuartal pertama tahun 2023. Pendapatannya turun sebesar 17,6 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp787 miliar.

Sejak pembukaan toko pertamanya pada tahun 2002, perusahaan ini telah memperluas gerai Starbucks di seluruh negeri hingga lebih dari 500 gerai pada tahun 2023.

Sebelumnya, Starbucks di Malaysia mencatat penurunan pendapatan sebesar 38,2 persen menjadi 182,55 juta ringgit (Rp623 miliar) pada kuartal keempat tahun 2023, menurut laporan keuangan dari operator lokalnya, Berjaya Food.

BACA JUGA:  Sebanyak 50 Orang Disebut Tertimbun Runtuhan Batu Gunung saat Gempa Taiwan

Perusahaan menjelaskan, penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh boikot yang sedang berlangsung terkait dengan perang Israel-Hamas.

Karena hasil dari perang ini masih belum pasti, merek-merek konsumen AS tetap bersikap hati-hati mengenai dampak perang di masa depan terhadap bisnis mereka.

“Jika Anda melihat dampak dari beberapa boikot di beberapa pasar kita, saya tidak akan mengatakan keadaan di sana menjadi lebih buruk,” kata CEO McDonald’s Chris Kempczinski dalam panggilan analis pada tanggal 30 April, menurut transkrip yang diterbitkan oleh outlet berita keuangan Seeking Alpha.

Namun dia menambahkan, “Kami tidak memperkirakan akan ada perbaikan yang berarti dalam dampaknya sampai perang selesai.”

  • Editor: Daton