HPV bekerja dengan menginfeksi sel-sel di area leher rahim (serviks). Dalam beberapa kasus, infeksi ini dapat memicu perubahan sel abnormal yang ditandai dengan munculnya papil atau jaringan kecil di serviks. Jika tidak terdeteksi dan tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi kanker.
Dr. Wirantaja menegaskan bahwa infeksi HPV tidak selalu dikategorikan sebagai penyakit menular seksual (PMS) dalam pengertian yang umum dipahami masyarakat.
“Ini bukan PMS dalam arti stigma negatif. HPV lebih kepada paparan akibat aktivitas seksual. Serviks bereaksi terhadap paparan tersebut, dan dalam prosesnya bisa muncul infeksi HPV,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun sperma tidak selalu mengandung virus, paparan berulang terhadap benda asing dapat memicu reaksi pada serviks, sehingga meningkatkan risiko munculnya HPV.
Tes HPV DNA berfungsi untuk mendeteksi keberadaan virus secara dini, bahkan sebelum muncul gejala. Dengan deteksi lebih awal, penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko kanker dapat ditekan.









